Langsung ke konten utama

Liku liku seorang penjual kaligrafi keliling kampung dalam mencari rizki

      

LIKA-LIKU PERJUANGAN SEORANG  PENJUAL KALIGRAFI KELILING



Setelah melihat penjual lafal (baca: kaligrafi arab) beristirahat di masjid sebelah kontrakan saya, saya teringat masa dimana saya melakukan hal yang sama. Sekitar 6 tahun yang lalu, keliling Jakarta di saat saya gak punya uang sama sekali, saya bertekad untuk ikut rombongan penjual lafal. Saat itu saya harus membawa sekitar 4sampai 6 lafal di kedua tangan dan punggung ..Oh, sungguh beratnya ketika harus membawa sepanjang jalan lafal-lafal ini di atas pundak. 


  Perjalanan pun di mulai sekitar pukul 8 pagi sebelum nya sarapan dulu di sebuah warteg langganan tiap hari  selang kemudian berangkat naik angkot ke lokasi dimana disitu yang kampunya hoby dengan bacaan lafal kaligrafi,ter kadang juga menyedihkan sekali ketika di mobil banyak penumpang dimana saya bawa barang yang tidak boleh pecah karna kalau pecah harus mengganti ,stengah sampai satu jam naik angkot, ahirnya sampai lah di lokasi yang dituju , turun dari mobil istirahat diwarung sejenak barulah keliling 
waktu sudah mulai sore kemudian, saya kembali jalan dan mencoba untuk masuk ke daerah kampung yang lebih dalam dengan asumsi biasanya orang yang lebih kampung orangnya lebih alim dan lebih suka kalau ditawarin barang semacam lafal ini. Sampai jam 5 sore saya terus berjalan melewati gang-gang kecil, beberapa pematang sawah, hingga melewati rimbunan pohon-pohon bambu. Terdapat satu rumah yang sedang direhab. Dengan salam, saya mencoba menyapa penghuninya. “Waalaikumsalam.ww,  ada apa mas”, tanya bapak penghuni rumah. “Iya pak, saya mau nawarin hiasan kaligrafi ada ukuran kecil dan besar,,bagus2 silahkan lihat2 pak, jawabku spontan. “oh iya silahkan masuk mas”, jawab bapak tersebut. Alhamdulillah, dipersilahkan masuk saja sudah senang hati ini. “Sudah pukul 8 malam, belum ada yang laku sama sekali. Semoga saja kali ini laku”, harapanku.

“Berapa yang itu mas”, tanya bapak. “yang ini kecil 60 ribu pak”, jawabku. “Ah, 30 ribu saja ya”, sahut bapak. “Wah, ga berani kalau segitu pak”, jawabku. “terus berapa dik?” tanya bapak. “50 ribu saja pak”, jawabku. “35 ribu saja ya”, sahut bapak. ““Yah dikit banget naiknya”, fikirku. “Ya segitu ya, udah malem juga kasihan kamu dik” jawab bapak. Walaupun tawar menawar ini sedikit alot, waktu sudah menunjukkan hampir  malam, akhirnya saya harus melepaskan lafal dengan harga 35 ribu. Walaupun cuma nggak seberapa untungnya, alhamdulillah tetap disyukuri. Setidaknya kalau ditanya teman-teman, saya bilang dagangan saya laku, ho,ho ho. Kembali lagi untuk bapak tadi yang istirahat di masjid. Semoga jualan anda laris ya pak..Semoga keluarga tetap menyambut anda dengan tangan terbuka ketika nanti anda pulang ke rumah, sekalipun jualan anda sedikit yang laku. bye ,bye...

Dari pengalaman pribadi




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERJALAN SEORANG PENJUAL KALIGRAFI

LIKA-LIKU PERJUANGAN SEORANG  PENJUAL KALIGRAFI KELILING Setelah melihat penjual lafal (baca: kaligrafi arab) beristirahat di masjid sebelah kontrakan saya, saya teringat masa dimana saya melakukan hal yang sama. Sekitar 6 tahun yang lalu, keliling Jakarta di saat saya gak punya uang sama sekali, saya bertekad untuk ikut rombongan penjual lafal. Saat itu saya harus membawa sekitar 4sampai 6 lafal di kedua tangan dan punggung ..Oh, sungguh beratnya ketika harus membawa sepanjang jalan lafal-lafal ini di atas pundak.    Perjalanan pun di mulai sekitar pukul 8 pagi sebelum nya sarapan dulu di sebuah warteg langganan tiap hari  selang kemudian berangkat naik angkot ke lokasi dimana disitu yang kampunya hoby dengan bacaan lafal kaligrafi,ter kadang juga menyedihkan sekali ketika di mobil banyak penumpang dimana saya bawa barang yang tidak boleh pecah karna kalau pecah harus mengganti ,stengah sampai satu jam naik angkot, ahirnya sampai lah di lokasi yang dit...